
International NGO Forum on Indonesian Development (INFID)
Agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (TPB/SDGs) merupakan rencana pembangunan global yang disepakati 193 pemimpin dunia pada tahun 2015 di kantor PBB. Indonesia bersama negara lainnya hanya memiliki waktu sembilan tahun lagi untuk mencapai target ambisius yang telah direncanakan dalam 17 tujuan SDGs pada tahun 2030.
Presiden Joko Widodo pada Sidang Umum PBB 2021 menyampaikan inklusivitas adalah prioritas utama kepemimpinan Indonesia, disertai komitmen Indonesia untuk membuktikan no one left behind yang juga menjadi prinsip utama SDGs. Kolaborasi tersebut menekankan upaya multipihak sebagai motor utama percepatan pembangunan, terlebih dalam tekanan situasi pandemi COVID-19. Namun demikian, makna kolaborasi sangat dipengaruhi oleh derajat pemahaman multipihak yang sama mengenai situasi, pengetahuan, rencana dan target agenda pembangunan.
International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) terus berkomitmen untuk mendukung pelaksanaan SDGs dengan cara menyusun dua kajian pemahaman publik dalam mendorong pelaksanaan SDG di Indonesia. Kajian pertama yaitu, “Derajat Pemahaman Publik: Sebuah Pijakan bagi Kolaborasi SDGs Indonesia”, dan kajian kedua yaitu, “Persepsi Masyarakat Sipil Terhadap Pelaksanaan Agenda Pembangunan SDGs 2030”. Selain itu untuk memaksimalkan kolaborasi anak muda, INFID juga menyusun, “Panduan Pelibatan Anak Muda Dalam Aksi SDGs untuk Pemerintah Daerah”.
Kedua kajian mengambil sumber data informasi dari 146 wawancara, 418 survei online, serta analisa berita pada 40 media online nasional dan daerah. Wawancara dilakukan kepada informan dari multipihak seperti pemerintah pusat dan daerah, organisasi masyarakat sipil (OMS), akademisi universitas, sektor privat/swasta, jurnalis/media, serta kelompok rentan (perempuan, anak muda, disabilitas, dan masyarakat adat).
Peluncuran kajian dilakukan dalam webinar, “Bincang Sore SDGs: Situasi Pemahaman Publik Dalam Pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan”, pada 29 September 2021.
Bona Tua selaku Senior Program Officer SDGs INFID menyampaikan temuan bahwa minimnya sinergi dan koordinasi antar lembaga di pusat, serta hubungan pusat dan daerah dalam mendorong pencapaian SDGs. Padahal pemerintah pusat telah melakukan upaya maksimal melalui penyusunan regulasi, tim pelaksana nasional, Rencana Aksi Nasional (RAN) dan Rencana Aksi Daerah (RAD) SDGs. Dari sisi pengetahuan kelompok OMS, survei online menunjukkan banyak OMS yang belum tahu isi dari RAN dan RAD SDGs. Bahkan, sebanyak 44,8% OMS tidak mengetahui soal anggaran SDGs.
Temuan lainnya terdapat narasi dan dorongan yang menggembirakan dari kelompok sektor bisnis, yaitu mau melakukan praktik bisnis yang menghormati HAM. OMS juga cukup banyak berperan dalam melakukan kampanye penyadaran dan kolaborasi dengan sektor bisnis dalam implementasi nilai-nilai bisnis yang berkelanjutan. Namun, proses untuk membahas suatu permasalahan lintas sektor yang melibatkan multipihak (pemerintah, sektor bisnis, OMS, universitas, universitas dan media) masih sulit untuk dilakukan.
Denisa Amelia Kawuryan selaku Program Assistant SDGs INFID menyampaikan hasil analisis media, yaitu porsi terbesar pembawa pesan isu SDGs di media adalah pemerintah. Hampir semua responden survei online (79,4%) menyatakan, bahwa pemerintah adalah pihak yang paling sering menyampaikan informasi terkait SDGs, disusul aktivis OMS dan akademisi. Namun demikian, di sisi yang lain, dominasi pemerintah sebagai pembawa pesan SDGs mendapatkan kritik dari berbagai kalangan. Alasannya, yakni: pemerintah masih kurang luwes dan adaptif dalam menampung aspirasi kaum muda





